Puluhan Penulis Muda Meriahkan Pertemuan Perdana FLP Bogor Angkatan X



Oleh Endang Yuni Purwanti  

Komunitas penulis yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bogor menggelar pertemuan perdana untuk para newbie angkatan ke-10 di Sekretariat FLP Bogor, Al-Hijr Learning Center, Jalan Gunung Batu, Kota Bogor, pada Minggu lalu (29/10/2017) yang dihadiri 25 orang newbie dan sejumlah pengurus FLP Bogor.

Dalam pertemuan perdana tersebut, kepada para Pramuda, sebutan untuk calon anggota FLP, Sekar Ayu Wulandari, selaku Ketua FLP Bogor 2017-2019, memaparkan tentang sejarah FLP, kepengurusan, dan juga tentang kekhasan FLP dibandingkan komunitas penulis lainnnya.

Pertemuan perdana tersebut juga diselingi games bertema fokus oleh Her Noertjahjo, Kepala Divisi Dana Usaha FLP Bogor. Games singkat tersebut mengajarkan tentang pentingnya focus dalam beraktifitas, termasuk aktifitas di FLP, seperti pepatah berkata your focus determines your reality.

Sebelum memasuki sesi utama tentang Puisi, Rima Komara dari Divisi Kaderisasi menjelaskan perihal kontrak belajar untuk Pramuda X, antara lain keharusan mengikuti minimal 6 dari 8 sesi pertemuan selama 8 pekan kedepan, kewajiban menulis reportase dan penulisan karya tiap selesai sesi pertemuan, juga mengenai waktu serta jadwal materi yang pada setiap sesi.

Sesi utama pertemuan perdana sesuai jadwal diisi tentang puisi yang disajikan oleh Dr. Ahmad Sastra, Dosen Filsafat Universitas Ibnu Khaldun Bogor sekaligus Ketua FLP Bogor pertama yang telah menulis 22 buku dan sejumlah karya puisi. Selain menjelaskan pengertian karya sastra dan jenis-jenisnya, perbedaan konten puisi lama dan puisi baru, yang paling menarik dalam sesi ini adlaah ditampilkan sebuah video pembacaan puisi karya Ahmad Sastra yang berjudul Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita oleh Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor pada acara pelantikan pejabat di lingkungan Pemprov Kalsel pada tanggal 31 Maret 2017.

Puisi tersebut mampu menjelaskan secara nyata kepada Pramuda X bagaimana sebuah puisi mampu mewakili keresahan, protes, doa, kritikan, juga harapan. Puisi tersebut juga menunjukan bahwa puisi masih eksis sebagai salah satu jenis karya sastra yang diterima masyarakat. Ahmad Sastra juga mampu membangkitkan semangat menulis Pramuda X dengan menceritakan proyek penulisan yang pernah ia lakukan. Terakhir Ahmad Sastra berpesan pada Pramuda X untuk jangan mati tanpa meninggalkan karya. 


Pertemuan perdana diakhiri dengan kesepakatan memilih Ahmad Sibli sebagai Ketua Kelas Pramuda X dan sesi foto bersama Ahmad Sastra. 

Komentar